China mengancam bakal membalas rencana Amerika Serikat (AS) yang menerapkan tarif impor 7,5 persen untuk produk-produk asal Negeri Tirai Bambu.
“AS telah mempolitisasi isu ekonomi dan perdagangan, yang merupakan tindakan nyata dari unilateralisme dan proteksionisme. China dengan tegas menentang hal ini,”kata juru bicara Kementerian Perdagangan China, Huang Ling, dalamketerangan pers rutin di Beijing, Kamis (27/8).

Menurut Huang, kapasitas produksi suatu negara seharusnya dinilai secara komprehensif, objektif, dan adil, bukan dijadikan pembenaran untuk menerapkan kebijakan proteksionisme sepihak.

“Kami akan terus memantau secara ketat dan mengevaluasi secara menyeluruh langkah-langkah AS selanjutnya, serta mempertahankan hak kami untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan,” tambah Huang.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas laporan yang beredar bahwa pemerintah AS tengah mempertimbangkan tarif tambahan sebesar 7,5 persen terhadap barang impor dari China.

Langkah AS itu dipicu tuduhan adanya kelebihan kapasitas manufaktur excess manufacturing capacity di Negeri Tirai Bambu. Kendati demikian, laporan media menyebutkan bahwa besaran tarif final tersebut masih belum diputuskan.

Sebagai informasi, Maret lalu Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) merilis laporan investigasi yang dikenal sebagai Section 301. Investigasi tersebut menargetkan praktik manufaktur di China serta 15 negara mitra ekonomi lainnya.

Penyelidikan tersebut juga mencakup Indonesia, Uni Eropa, Jepang, India, Korea Selatan, Vietnam, Malaysia, Thailand, Singapura dan sejumlah negara lainnya.

Hasil investigasi tersebut kemudian ditolak mentah-mentah oleh China, khususnya perihal kelebihan kapasitas industri. Pemerintah China berargumen bahwa produksi dan permintaan global harus dievaluasi dari perspektif internasional.

Negeri Tirai Bambu juga menegaskan bahwa volume produksi yang melebihi konsumsi domestik tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai kelebihan kapasitas.

Saat ini, tarif pengganti atau replacement tarif AS terhadap barang China berada di level 12,5 persen. Jika diberlakukan tarif tambahan 7,5 persen, maka total tarif AS terhadap barang China berada di kisaran 20 persen.

China juga mempunyai sejumlah pilihan untuk merespons tekanan perdagangan AS. Beijing dapat mempertimbangkan tarif balasan terhadap produk Amerika, memperketat kebijakan perdagangan tertentu, atau menggunakan instrumen ekonomi lainnya. Namun, keputusan tersebut harus diperhitungkan dengan hati-hati karena tindakan balasan juga dapat memberikan dampak terhadap perekonomian China sendiri.

Ketegangan ini muncul ketika perdagangan global masih menghadapi berbagai ketidakpastian. Amerika Serikat sebelumnya telah memberlakukan tarif baru terhadap puluhan mitra dagang, termasuk China. Pada Juli 2026, AS mulai menerapkan tarif baru sebesar 10 persen atau 12,5 persen terhadap barang dari sekitar 60 mitra dagang.

Di sisi lain, pejabat AS terus menyoroti ketidakseimbangan perdagangan dengan China. Menteri Keuangan AS Scott Bessent baru-baru ini menyerukan agar negara-negara G20 meninjau kembali kebijakan perdagangan mereka terhadap China. Menurutnya, ketergantungan China terhadap ekspor menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap ketidakseimbangan perdagangan global.

Jika kedua negara kembali terlibat dalam perang tarif yang lebih besar, dampaknya bisa meluas ke rantai pasok internasional. Perusahaan multinasional dapat menghadapi kenaikan biaya produksi dan distribusi, sementara negara lain harus menyesuaikan strategi perdagangan mereka.

Meski Beijing mengancam akan membalas, ruang untuk negosiasi masih terbuka. Amerika Serikat dan China tetap mempunyai kepentingan besar dalam menjaga hubungan ekonomi karena keduanya merupakan kekuatan utama dalam perdagangan dunia.

Karena itu, perkembangan selanjutnya akan sangat menentukan arah hubungan dagang kedua negara. Jika tarif baru benar-benar diterapkan dan China menjalankan tindakan balasan, ketegangan ekonomi AS-China berpotensi kembali meningkat. Namun, apabila kedua pihak memilih jalur negosiasi, eskalasi perang dagang masih dapat ditekan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *