Konflik geopolitik tidak lagi hanya menjadi persoalan keamanan di wilayah tempat perang berlangsung. Dampaknya menjalar ke jalur perdagangan, pasar energi, biaya transportasi, hingga harga pangan di negara yang bahkan berada jauh dari pusat konflik. Gambaran tersebut terlihat dari perkembangan harga pangan dunia pada Agustus 2026.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mencatat, Indeks Harga Pangan FAO mencapai 133,3 poin pada Agustus 2026, naik 1,9 persen dibandingkan Juli 2026 dan 2,5 persen dibandingkan Agustus 2025.
FAO menyebut kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan akibat suhu tinggi dan risiko cuaca. Namun, faktor geopolitik dan gangguan logistik perdagangan juga menjadi bagian penting dari tekanan terhadap pasar pangan global. Kepala Ekonom FAO Maximo Torero mengatakan, kenaikan harga pangan pada Agustus 2026 menunjukkan premi risiko kembali masuk ke pasar pangan.
“Guncangan iklim, ketegangan geopolitik, dan gangguan logistik perdagangan saling bertemu, yang berakhir pada pengetatan ekspektasi pasokan,” kata Torero. Menurutnya, ketahanan, perdagangan terbuka, serta keamanan arus pasokan menjadi semakin penting bagi stabilitas harga pangan global. Laut Hitam hingga Selat Hormuz Dampak konflik geopolitik terhadap perdagangan pangan terlihat jelas pada komoditas serealia. FAO mencatat indeks harga serealia naik 2,2 persen pada Agustus 2026 dibandingkan Juli 2026.
Laut Hitam hingga Selat Hormuz Dampak konflik geopolitik terhadap perdagangan pangan terlihat jelas pada komoditas serealia. FAO mencatat indeks harga serealia naik 2,2 persen pada Agustus 2026 dibandingkan Juli 2026.
<img src=”https://asset.kompas.com//data/photo/2026/09/07/6a9e6da5824f4.jpg” />
Peningkatan terjadi pada seluruh komoditas utama, didorong oleh kuatnya permintaan impor, meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek panen, serta surat kabar yang masih membayangi arus perdagangan penting. Harga gandum internasional naik 2,6 persen setiap bulan pada Agustus 2026. Dibandingkan setahun sebelumnya, harga gandum bahkan telah meningkat 15 persen. Salah satu faktor yang disebut FAO adalah gangguan logistik ekspor di kawasan Laut Hitam yang masih berlangsung. Tekanan terhadap prospek produksi di sejumlah wilayah Eropa akibat cuaca panas dan kering serta pelemahan dolar AS juga ikut menopang kenaikan harga. </span>
Laut Hitam menjadi salah satu jalur penting perdagangan gandum dunia. Ketika jalur ekspor terganggu, permasalahannya bukan hanya berkurangnya barang yang dapat dikirim, tetapi juga meningkatnya kemudahan mengenai kapan dan melalui jalur mana komoditas tersebut dapat sampai ke pasar. Situasi serupa terjadi pada jagung. Harga jagung dunia naik 2,5 persen pada Agustus 2026. FAO menaikkan kenaikan tersebut dengan kekhawatiran terhadap hasil panen di sebagian wilayah Amerika Serikat (AS), memburuknya prospek produksi di Uni Eropa, serta kuatnya permintaan akan kebutuhan etanol dan pakan.
ir=”auto” style=”vertical-align: inherit;”>Namun, terdapat pula faktor geopolitik dan logistik. FAO mencatat gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz serta gangguan terhadap arus ekspor Ukraina turut memberikan tekanan terhadap harga jagung. Artinya, jalur perdagangan kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perhitungan harga komoditas pangan.

Dari jalur perdagangan ke harga pangan Dampak gangguan tersebut tidak berhenti pada pasar komoditas global. Ketika biaya pengiriman, energi, atau input produksi meningkat, tekanan tersebut dapat dipindahkan ke pasar domestik negara yang bergantung pada perdagangan internasional. Temuan World Food Program (WFP) menunjukkan bagaimana mekanisme tersebut bekerja.
Dalam laporan bertajuk Ketahanan Pangan Di Bawah Tekanan: Bagaimana Krisis Timur Tengah Berdampak pada Negara-Negara Rentan, WFP menganalisis dampak meningkatnya ketegangan di Timur Tengah terhadap Afghanistan, Somalia, dan Sri Lanka.
WFP menemukan krisis tersebut mendorong kenaikan harga bahan bakar dan pangan, mengganggu rantai pasok, sekaligus menekan pendapatan masyarakat. Akibatnya, jutaan orang tambahan di ketiga negara tersebut menghadapi risiko tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan dasar.

